Dibalik Kesan Baik Minyak Goreng: Kesan Buruk Health Awareness

Oleh: Faiz Akbar Abdurrahim (Mahasiswa Psikologi Universitas Pancasila)

Defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai. Permasalahan ini disebut-sebut berdampak buruk bagi banyak pihak.
Asisten deputi direksi bidang pengelolaan fasilitas kesehatan rujukan BPJS Kesehatan, Beno Herman menyebut, hingga akhir tahun 2019 ini defisit yang dialami BPJS Kesehatan kemungkinan mencapai hingga 28 triliun rupiah. Saat ini dengan iuran yang diterima BPJS dengan dana yang kita butuhkan masih kurang 2 triliun rupiah setiap bulannya (detik.com, 2019). Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tingkat pengeluaran dana BPJS lebih tinggi daripada tingkat pemasukan BPJS. Artinya, jumlah pasien yang ditanggulangi BPJS kian membludak. Peristiwa ini tak jarang membuat kita terheran-heran. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Dan sebenarnya penyakit apa yang paling banyak dan paling mematikan di Indonesia ?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita setuju bahwa makanan adalah kebutuhan dasar fisiologis dan bahkan psikologis manusia bila mengacu pada teori humanistik Abraham Maslow. Makan adalah perilaku mendasar yang sehari-hari kita lakukan untuk bertahan hidup. Namun apakah makanan yang kita konsumsi tiap hari benar-benar menyehatkan ? Atau sebaliknya ? Izinkan saya bertanya pada anda apakah anda dalam sehari terakhir ini mengkonsumsi makanan yang digoreng ? Apakah anda sering mengkonsumsi makanan yang digoreng ? Apakah anda memerhatikan makanan anda dimasak menggunakan minyak jelantah atau tidak ? Silahkan anda jawab sendiri, namun pada dasarnya pertanyaan tersebut dapat dijawab melalui data statistik perkembangan konsumsi minyak goreng di Indonesia.

Minyak goreng atau minyak kelapa sawit sangat berlimpah dan merupakan aset vital negara Indonesia sebagai eksportir dengan persentase ekspor komoditas non-migas yang tinggi (±60%) dari keseluruhan ekspor Indonesia. Dibandingkan komoditas subsektor perkebunan lainnya, kelapa sawit mengalami pertumbuhan yang paling pesat sejak 1980-an. Minyak kelapa sawit juga merupakan jenis minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia (Indonesia-Investments: Millan, 2014).

Jenis Komoditas Produksi / Cadangan Indonesia Produksi / Cadangan Global Pangsa Total Indonesia
Cocoa 420,000 ton 4,025,000 ton 10.4%
Coalbed Methane 453 triliun kaki kubik 7,550 triliun kaki kubik 6.0%
Batubara 281.7 juta ton oil equiv. 3,933.5 juta ton oil equiv. 7.2%
Beras 70.6 juta ton 744.0 juta ton 9.5%
Emas 109.9 ton 3,109.9 ton 3.5%
Energi Panas Bumi 27,510 mega watt 68,775 mega watt 40.0%
Gas Alam 73.4 miliar m³ 3,460.6 miliar m³ 2.1%
Karet Alam 3.2 juta ton 12.0 juta ton 26.7%
Kopi 9.4 juta kantong (60 kg) 141.7 juta kantong (60 kg) 6.6%
Minyak Bumi 852,000 barrel per hari 88,673,000 barrel per hari 1.0%
Minyak Kelapa Sawit 29 juta ton 60 juta ton 51.7%
Teh 0.13 juta ton 5.03 juta ton 2.6%
Tabel 1.1 Estimasi Produksi Komoditas Indonesia Tahun 2014 (Indonesia-Investments)

Jumlah produksi minyak kelapa sawit Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Agroindustri kelapa sawit Indonesia mengalami pertumbuhan rata-rata di atas 12% setiap tahunnya sepanjang tahun 1990 – 2005 . Produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2014 telah mencapai lebih dari 29 juta metrik ton. Pertumbuhan agro industri kelapa sawit yang pesat telah memposisikan Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia sejak tahun 2012 (Badan Pusat Statistik, 2017).

Gambar 1 Volume Produksi Minyak Sawit dan Inti Sawit Indonesia (Badan Pusat Statistik)

Agroindustri kelapa sawit berperan sebagai produsen sekaligus pemasok minyak sawit sebagai bahan baku bagi industri turunannya. Industri fraksinasi (terutama industri minyak goreng) menjadi industri yang paling banyak menyerap hasil dari agroindustri kelapa sawit di pasar domestik (Badan Pusat Statistik, 2017). Minyak goreng yang beredar di pasar domestik didominasi oleh minyak goreng sawit.

Gambar 2 Perkembangan Konsumsi Minyak Goreng di Indonesia (World Bank: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian)

Penjelasan tersebut memberi pengetahuan betapa masifnya perkembangan pengguna minyak kelapa sawit atau minyak goreng di Indonesia. Artinya, banyak pula masyarakat yang mengkonsumsi minyak goreng karena perkembangan industri minyak goreng tidak mungkin bertumbuh dengan cepat apabila tidak ada permintaan pasar. Makanan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia pun secara signifikan kebanyakan menggunakan minyak goreng.

Minyak goreng sangatlah berperan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Mendengar makanan gorengan saja membuat kita terbayang lezatnya pisang goreng, tahu isi, bakwan, nasi goreng dan yang lainnya. Maka dari itu dengan mudahnya kita menemukan pedagang yang menjajakan dagangan makanan yang digoreng karena tingginya permintaan pasar akan makanan yang digoreng. Sedangkan bila kita ingin mencari makanan yang direbus atau dikukus akan sangat lebih sulit, sebagai contoh pedagang dimsum dan gorengan tentulah lebih banyak pedagang gorengan. Mungkin saja kita sebagai konsumen secara sadar maupun tak sadar mengkonsumsi makanan yang digoreng secara berlebih, bahkan makanan tersebut bisa jadi menggunakan minyak goreng bekas atau minyak jelantah. Penggunaan minyak jelantah ini seringkali dianggap hal yang lumrah dan wajar pada masyarakat Indonesia bahkan dibeberapa negara lainnya.

Manajemen Serikat Kesejahteraan WCO (Waste Cooking Oil atau minyak goreng buangan) baru-baru ini menantang negara maju dan berkembang dalam pengolahan hasil minyak jelantah di seluruh dunia. Residu, yang juga digunakan sebagai Minyak Goreng (Used Cooking Oil atau minyak jelantah) diperoleh setelah menggunakan minyak nabati dalam mempersiapkan makanan (Kabir, 2014).

Limbah minyak goreng saat ini telah diperhitungkan diantara limbah cair lainnya yang dihasilkan setiap hari dari berbagai sumber yang terdiri dari rumah tangga, restoran, perusahaan katering, dan dapur industri. Panas yang biasanya diterapkan dalam proses penggorengan, dapat merubah fitur fisik dan kimia dari ganti minyak goreng dari bentuk aslinya menjadi lebih berbahaya. Sering kali limbah minyak goreng yang diharapkan untuk diolah dan dikelola dengan cara yang tidak dapat membahayakan kesehatan manusia dan atau lingkungan, dibuang oleh konsumen melalui bak cuci, tempat sampah, sistem drainase, toilet, atau langsung ke badan air dan tanah langsung. Sejumlah besar minyak goreng buangan yang dihasilkan di seluruh dunia dilepaskan ke lingkungan. Sekitar 50.000 ton limbah minyak goreng yang dihasilkan dari minyak nabati dan atau lemak hewani dibuang ke lingkungan tanpa perlakuan yang layak setiap tahun. Tindakan ini dalam jangka panjang berkontribusi terhadap kontaminasi air dan tanah, menyebabkan gangguan kehidupan air, penyumbatan dan pembuangan sistem saluran pembuangan, meningkatkan biaya pengolahan air dan pengelolaan limbah, dan akibatnya menimbulkan dampak yang tidak diinginkan pada seluruh sistem lingkungan (Kabir, 2014). Namun lagi-lagi hal ini masih dianggap lumrah dan wajar di Indonesia karena dengan mudah kita melihat masyarakat yang membuang minyak goreng sembarangan, atau bahkan mungkin kita sendiri masih melakukan hal tersebut ?

Tak hanya sampai disitu saja, pelepasan limbah minyak goreng ke perairan mengubah proses oksigenasi dan menghancurkan kehidupan akuatik di lingkungan laut dengan membentuk lapisan yang menutupi permukaan air dan mencegah pembubaran oksigen. Ketika produk sampingan dari degradasi minyak bercampur dengan air, hal tersebut meningkatkan permintaan oksigen kimia (COD) dari air dan mencemari air menjadi beracun. Akibatnya, biota air (seperti ikan) menyerap senyawa beracun dari air yang tercemar dan kemudian dikembalikan ke manusia melalui rantai makanan. Belum lagi, minyak goreng limbah yang dikosongkan ke dalam sistem drainase menghasilkan beberapa masalah pengoperasian dan pemeliharaan pada sistem. Efeknya dimulai ketika limbah minyak goreng memadat dan terakumulasi di dalam sistem drainase untuk menyangkal limbah mengalir bebas ke pabrik pengolahan air limbah atau ruang pembuangan limbah. Setelah saluran pembuangan tersumbat, hal ini menyebabkan cadangan dan pelimpahan saluran pembuangan ke lingkungan sekitar, yang dapat mengakibatkan potensi bahaya kesehatan lingkungan dan biaya tambahan yang diperlukan untuk upaya pembersihan (Kabir, 2014).

Dalam hal implikasi kesehatan dari penggunaan ulang limbah minyak goreng dalam memasak makanan, pemanasan terus-menerus dan konsumsi limbah minyak goreng dilaporkan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Penggunaan kembali limbah minyak goreng untuk makanan seseorang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, masalah hati, dan kanker. Hal tersebut terjadi karena ketika minyak dikenakan pemanasan terus-menerus, konsentrasi hidrokarbon dalam minyak meningkat dan membuatnya tidak sehat untuk dikonsumsi (Kabir, 2014).. Jangankan minyak jelantah, konsumsi berlebih makanan berminyak juga dapat membuat seseorang mengalami sakit tenggorokan, obesitas dan beresiko penyakit jantung (Yuspa, 2016).

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa berdasarkan Departemen Kesehatan Indonesia, penyakit terbanyak yang dialami masyarakat Indonesia adalah hipertensi dan penyakit terbanyak yang mematikan di Indonesia adalah serangan jantung (Depkes, 2019). Banyak faktor yang dapat menjelaskannya namun salah satu yang mungkin mempengaruhi kedua penyakit ini dan juga yang dapat menjelaskan mengapa pasien di Indonesia yang khususnya para pasien pengguna BPJS menjadi membludak adalah kurangnya health awareness masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi makanan sehat dan dalam mengontrol konsumsi makanan berminyak.

Secara sederhana, kesehatan menurut WHO adalah keadaan sejahtera dimana secara fisik, sosial, budaya dan spiritual tidak dalam kondisi sakit. Health awareness sangatlah penting karena pada dasarnya banyak penyakit muncul akibat terjadinya pola hidup yang tidak sehat yang disebabkan kurangnya kesadaran untuk sehat atau Health awareness yang menyebabkan timbulnya penyakit terbanyak dan termematikan tersebut. Konsumsi berlebih makanan berminyak dan makanan dengan minyak jelantah yang sering dianggap wajar dapat menimbulkan tingginya kolesterol sehingga tak jarang membuat penderitanya malas bergerak dan bahkan obesitas, kolesterol inilah yang nantinya akan memicu meningkatnya resiko menderita penyakit tekanan darah tinggi hipertensi dan serangan jantung. Dengan demikian, akar permasalahan yang ada adalah kurangnya Health awareness masyarakat Indonesia khususnya pada pengkonsumsian makanan berminyak dan makanan menggunakan minyak jelantah, bahkan efek pembuangan minyak secara sembarangan pun merusak ekosistem yang nantinya akan menciptakan adanya penyakit lainnya pada manusia. Secara teori Health Psychology penjelasan tersebut dapat digambarkan dengan Determinants of Health oleh Dahigren (dalam David, 2015):

Gambar 3 Determinants of Health Theory (Dahigren)

penting. Gaya hidup yang dialami masyarakat Indonesia memang cenderung mengkonsumsi makanan dengan olahan minyak sehingga nantinya akan mempengaruhi dan dipengaruhi aspek makro seperti budaya (contohnya budaya masakan Padang yang sering kita jumpai makanan tersebut banyak yang berminyak dan tinggi kolesterol). Aspek permintaan masyarakat akan makanan berminyak akibatnya menciptakan lingkungan sosio-ekonomi kuliner dengan makanan berminyak pula. Hal inilah yang setidaknya secara sederhana dan ringkas dapat menjelaskan mengapa BPJS mengalami defisit. Kurangnya Health awareness akan pengontrolan konsumsi makanan berminyak dan makanan dengan minyak jelantah ini secara langsung dapat mengakibatkan tingginya resiko serangan jantung, obesitas dan lainnya. Secara tidak langsung dapat meningkatkan tingginya resiko hipertensi.

Dibalik kesan baik minyak goreng, terdapat problematika pelik. Hal ini ibarat dua mata pisau. Kita perlu berbangga akan pesatnya pertumbuhan industri minyak goreng di Indonesia tetapi kita perlu mencermatinya secara mendalam pula bagaimana dengan penggunaan minyak goreng tersebut, Apakah kita sudah bijak ? Karena pada dasarnya minyak goreng dan kelapa sawit adalah benda mati yang tak dapat disalahkan, maka kita sebagai manusialah yang harus menintrospeksi diri. Dalam artikel ilmiah ini, penulis berharap agar pembaca dapat mulai setidaknya dari diri sendiri dahulu untuk meningkatkan Health awareness atau kesadaran hidup sehat terutama agar mampu mengontrol diri dalam mengkonsumsi makanan berminyak, tidak menggunakan minyak jelantah dan bijak dalam membuang limbah minyak. Solusi tersebut setidaknya dapat dimulai dari diri sendiri, bila secara signifikan kita belum mampu mempengaruhi problematika kompleks ini namun setidaknya kita sudah secara signifikan membantu mempengaruhi diri kita agar lebih sehat, karena tubuh kita memiliki hak untuk sehat. Adapun solusi skala pemerintahan adalah dengan mengadakan pengelolaan limbah minyak goreng yang bertujuan untuk mencegah dampak lingkungan dan kesehatan secara umum terkait dengan pembuangan yang tidak tepat dan konsumsi berkelanjutan di antara konsumen. Hal ini mencakup diadakanya hukum dan langkah-langkah praktis yang digunakan dalam memastikan bahwa limbah minyak goreng ditangani dengan cara yang memastikan tidak adanya pengaruh negatif hal tersebut pada kesejahteraan lingkungan dan manusia. Program pengumpulan dan daur ulang minyak goreng adalah salah satu praktik paling umum di negara atau kawasan maju seperti di Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan Taiwan. Program ini melibatkan pengumpulan dan daur ulang limbah minyak goreng untuk diolah menjadi produksi beberapa produk berharga yang meliputi produksi sabun, energi oleh pencernaan anaerob, perengkahan termal, dan produksi biodiesel; bahan bakar yang bisa digunakan sebagai pengganti bensin-diesel. Oleh karena itu, dengan melimpahnya limbah limbah minyak goreng, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan pusat pengumpulan dan daur ulang limbah minyak goreng di tempat-tempat strategis di berbagai kota.

 

Daftar Pustaka:

  • Depkes. (2019). Hipertensi Penyakit Paling Banyak Diidap Masyarakat. Jakarta: Depkes. Retreived from http://www.depkes.go.id/article/view/19051700002/hipertensi-penyakit-paling-banyak-diidap-masyarakat.html
  • Depkes. (2019). Penyakit Jantung Penyebab Kematian Tertinggi, Kemenkes Ingatkan CERDIK. Jakarta: Depkes. Retreived from http://www.depkes.go.id/article/view/17073100005/penyakit-jantung-penyebab-kematian-tertinggi-kemenkes-ingatkan-cerdik-.html
  • Hanum, Yuspa. (2016). Dampak Bahaya Makanan Gorengan Bagi Jantung. Indonesia: Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera.
  • Kabir, I., Yacob, M., & Radam, A. (2014). Households’ awareness, attitudes and practices regarding waste cooking oil recycling in Petaling, Malaysia. IOSR-JESTFT8(10), 45-51.
  • Marks, E. David. Et. al. (2015). Health Psychology. USA: Sage Pub.
  • Widiya. (2019). BPJS Kesehatan Sebut Kemungkinan Defisit Rp 28 Triliun Hingga Akhir 2019. Jakarta: Detik.com.
  • McMillan, J. (2014). TAX AUDITS IN INDONESIA–GROWING THE TAX BASE.
  • BPS. (2017). Statistik Kelapa Sawit 2017. Indonesia: BPS. Retrieved from https://www.bps.go.id/publication/2018/11/13/b73ff9a5dc9f8d694d74635f/statistik-kelapa-sawit-indonesia-2017.html
  • Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. (2015). Perkembangan Konsumsi Minyak Goreng di Indonesia. Indonesia.