
Fakultas Psikologi Universitas Pancasila Dorong Mahasiswa Jadi “Power Human” di Era AI
Jakarta – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut generasi muda untuk tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mengolahnya menjadi solusi yang bermakna dan berdampak. Hal ini menjadi sorotan utama dalam kegiatan Studium Generale Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Pancasila dengan tema “Becoming Power Human: Manusia Berdaya di Era AI” pada hari Senin, 20 April 2026.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Prof. Dr. Awaluddin Tjalla, M.Pd, bersama jajaran dosen serta seluruh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.
Pada kegiatan ini menghadirkan CEO Inspigo sekaligus penulis buku Becoming Power Human, Tyo Guritno, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya yang berjudul “The Masterpiece Mindset for the AI Generation”, Tyo menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan manusia, melainkan akan menggantikan individu yang tidak memiliki arah, nilai, dan makna dalam berkarya.
Pada paparannya, Tyo mengamati fenomena “workslop”, yaitu kondisi di mana individu mampu menghasilkan banyak pekerjaan dengan bantuan AI, namun tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap apa yang dikerjakan. Fenomena ini dinilai berpotensi menimbulkan ilusi kompetensi serta menurunkan kemampuan berpikir kritis.
“AI adalah tentang kecepatan, tetapi manusia adalah tentang makna. Tanpa makna, kecepatan hanya akan membawa pada stagnasi,” ujar Tyo.
Tyo juga menekankan pentingnya proses berkarya sebagai inti dari pengembangan diri di era AI. “Kunci dari segalanya adalah berkarya. Cobalah memetakan persoalan yang ada, karena ada nilai-nilai mendalam yang tidak bisa diproduksi oleh AI,” ungkapnya.
Melalui konsep Masterpiece Mindset, mahasiswa diajak untuk membangun karya dengan niat, kualitas, serta proses pembelajaran yang berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip psikologi perkembangan yang menekankan pentingnya growth mindset, yaitu pola pikir yang mendorong individu untuk terus berkembang melalui proses belajar dan pengalaman.
Selain itu, mahasiswa didorong untuk bertransformasi dari sekadar consumer menjadi builder, individu yang mampu menciptakan produk, solusi, bahkan inovasi berbasis AI. Transformasi ini juga berkaitan dengan penguatan self efficacy, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi tantangan.
Sebagai langkah konkret, mahasiswa diajak untuk mulai membangun proyek AI sederhana dalam waktu tujuh hari, dimulai dari mengidentifikasi permasalahan hingga meluncurkan solusi awal kepada pengguna. Pendekatan ini mencerminkan prinsip behavioral activation, yang menekankan pentingnya tindakan nyata sebagai pemicu motivasi dan pembelajaran.
Indonesia sendiri dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan inovasi berbasis AI, khususnya di psikologi, kesehatan, pendidikan, dan UMKM. Beragam tantangan yang ada, generasi muda diharapkan mampu menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Teknologi tidak hadir untuk menggantikan manusia, tetapi untuk memperbesar potensi terbaik dalam diri kita,” tutup Tyo.
Melalui kegiatan Studium Generale ini, Fakultas Psikologi Universitas Pancasila berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran psikologis, makna dalam berkarya, serta kemampuan untuk berkontribusi secara nyata bagi masa depan Indonesia.



